

LEBAK,ThePoskota.Online-Aroma durian mulai menyambut siapa pun yang melintas di Jalan Kimaklum, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Di jalan yang lebih dikenal warga sebagai Gang Kibun itu, belasan lapak durian berjajar di sepanjang ruas sekitar 200 meter. Lokasinya pun tak jauh dari Stasiun Rangkasbitung.
, Gang Kibun menjadi salah satu tempat yang mudah dijangkau untuk berburu durian lokal Baduy tanpa harus melanjutkan perjalanan jauh ke pedalaman Lebak. Setiap kali musim durian Baduy tiba, kawasan itu berubah menjadi deretan lapak yang nyaris tak pernah sepi. Momen Dramatis BNN Gerebek Kampung Bahari, Massa Lawan Aparat Krisis Air, Udara Gerah: Jawa Barat Hadapi Kemarau Panjang Salah satu pedagang yang merasakan geliat musim tersebut adalah Abas. Sejak tahun 2000, ia telah berjualan durian di Gang Kibun. Saat musim panen berlangsung, lapaknya bahkan buka tanpa mengenal waktu. “Kalau lagi musim kita non stop buka siang malam, durian lokal dari Baduy yang dijual,” kata Abas kepada Kompas.com di lapaknya, Jumat (21/8/2026).
Harga Mulai Rp 25.000 hingga Rp 150.000 Per Buah Di lapak Abas, harga durian bervariasi. Buah berukuran kecil bisa didapat mulai Rp 25.000 per buah. Ada pula paket empat buah seharga Rp 100.000.
Sementara untuk durian dengan ukuran atau kualitas tertentu, harganya bisa mencapai Rp 75.000 per buah. Tak hanya warga Rangkasbitung yang datang berburu durian. Menurut pedagang lainnya, Ohim, sejumlah pembeli justru datang setelah turun dari KRL. “Yang beli ada dari Rangkasbitung, tapi banyak juga penumpang KRL dari Jabodetabek,” ujar Ohim. membuat durian cepat berpindah dari tumpukan di lapak ke tangan para pelanggan.

Dalam sehari, Ohim bisa menjual sekitar 200 hingga 300 buah durian saat musim durian Baduy berlangsung. Ketika musim panen Baduy berakhir, Gang Kibun tak lantas kehilangan durian. Para pedagang tetap berjualan dengan mendatangkan pasokan dari sejumlah daerah lain, seperti Lampung dan Medan. Menikmati Musim Durian di Lebak Bagi Pemerintah Kabupaten Lebak, musim durian tak sekadar menjadi waktu panen. Kehadiran buah berduri itu juga dilihat sebagai daya tarik tambahan untuk mendatangkan wisatawan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak Yosep Mohamad Holis mengatakan musim durian dapat menjadi pelengkap wisata budaya Baduy. Wisatawan yang datang ke Lebak, kata dia, tidak hanya dapat menikmati kehidupan dan budaya masyarakat Baduy, tetapi juga berburu durian lokal yang tengah memasuki musim panen. “Musim panen durian ini menjadi satu daya tarik juga untuk wisatawan datang ke Lebak, diaglomerasi dengan wisata Sahabat Budaya Baduy. Artinya, ini menjadi satu komplementer (saling melengkapi),”
Jumat.
Selain Baduy, panen durian juga berlangsung serentak di sejumlah wilayah Lebak, seperti Sindangwangi, Muncang, dan Gunung Kencana. Lihat Foto Menurut Yosep, kondisi tersebut membuka peluang bagi wisatawan untuk tidak sekadar datang dan pulang dalam sehari. “Yang kami harapkan bukan hanya kunjungan, tapi lama tinggalnya juga menjadi lebih lama, sehingga banyak orang luar bisa menghabiskan uang di Kabupaten Lebak,” ujarnya. Mayoritas wisatawan yang datang ke Baduy berasal dari wilayah Jabodetabek, terutama Jakarta dan Tangerang Raya. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, jumlah kunjungan ke Baduy pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 137.000 wisatawan. Angka itu diperkirakan terus meningkat, terutama ketika musim durian berlangsung. “Kalau ke Baduy dari bulan Agustus sampai Oktober itu pasti akan penuh karena bukan hanya daya tarik budaya Baduynya saja, tapi juga musim duriannya,” kata dia. Untuk menangkap momentum tersebut, Pemkab Lebak juga menyiapkan Festival Mura Kadu yang akan digelar di kawasan Rangkasbitung.
Tim…reed.77

Tidak ada komentar