x

Membaca Psikologi Ekonomi Indonesia Di Balik Serbuan Emas

waktu baca 3 menit
Senin, 3 Agu 2026 06:42 60 Wisnu

JAMBI, thepostkota.Online – Ketika masyarakat berbondong-bondong membeli emas, para ekonom tidak hanya melihatnya sebagai tren investasi. Itu adalah sinyal. Sinyal tentang bagaimana publik membaca risiko dan masa depan ekonomi.

Data terbaru World Gold Council (WGC) menjadi alarm itu. Pada kuartal II 2026, permintaan investasi emas di Indonesia melonjak sekitar 40 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kenaikan permintaan emas investasi tertinggi di dunia.

Sepanjang semester I 2026 saja, permintaan emas batangan dan koin di Indonesia mencapai 38,1 ton – melampaui gabungan permintaan Thailand dan Vietnam. Secara global, total permintaan emas dunia di periode yang sama mencapai 2.522 ton dengan nilai US$380 miliar, rekor tertinggi sepanjang sejarah untuk periode enam bulan pertama.

Guru Besar Ekonomi Universitas Jambi / Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi, Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S, yang juga Tenaga Ahli Gubernur Jambi, menjelaskan fenomena ini tidak bisa dibaca secara sederhana.

“Pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya mengapa masyarakat membeli emas, tetapi apa yang sebenarnya sedang dibaca masyarakat terhadap kondisi ekonomi,” ujarnya.

Dalam perspektif behavioral economics, keputusan membeli emas adalah cerminan dari meningkatnya kehati-hatian.

Manusia, menurut teori Daniel Kahneman dan Amos Tversky, memiliki sifat loss aversion – lebih takut kehilangan daripada bernafsu mengejar keuntungan besar. Saat ketidakpastian tinggi, rasa aman menjadi jauh lebih berharga daripada imbal hasil tinggi.

Dan ketidakpastian itu nyata. Ekonomi global masih dibayangi konflik geopolitik, fragmentasi perdagangan, fluktuasi harga energi, hingga tarik-ulur kebijakan suku bunga global dan tekanan nilai tukar.

Survei Reuters pekan lalu bahkan mencatat, meski proyeksi harga emas sempat direvisi turun setelah rekor di awal tahun, analis meyakini pembelian masif oleh bank sentral dan tingginya permintaan aset lindung nilai akan tetap menopang pasar emas dalam jangka menengah.
Emas Sebagai Sabuk Pengaman Ekonomi
Emas sejak lama diposisikan sebagai safe haven asset.

“Analoginya seperti sabuk pengaman di dalam kendaraan. Sabuk pengaman tidak membuat perjalanan lebih cepat atau lebih menguntungkan, tetapi memberikan perlindungan ketika terjadi guncangan,” jelas Prof. Haryadi.

Ketika pasar saham bergejolak, inflasi mengintai, dan kurs berfluktuasi, emas cenderung menjadi tempat berlindung. Ia tidak selalu memberi untung terbesar, tapi menjaga nilai kekayaan tetap aman.

Jangan Salah Baca: Ini Bukan Kepanikan, Ini Diversifikasi
Prof. Haryadi menegaskan, fenomena ini tidak bisa diartikan sebagai hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi nasional. Kesimpulan itu terlalu simplistis.

Secara makro, ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Inflasi dalam sasaran, sistem keuangan stabil, dan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang kuat.

“Yang terjadi adalah meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mengelola risiko. Pengalaman menghadapi pandemi, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok membentuk memori kolektif bahwa ketidakpastian bisa datang sewaktu-waktu,” katanya.

Membeli emas, dalam konteks ini, adalah strategi diversifikasi yang sehat. Menaruh semua kekayaan pada satu instrumen justru berisiko. Emas berfungsi sebagai store of value di tengah volatilitas.
Tantangan Pemerintah: Mengubah Emas Jadi Pabrik
Namun ada pekerjaan rumah besar di balik kilau emas ini.

Emas bisa menjaga kekayaan individu, tapi tidak bisa membangun pabrik baru. Emas bisa mempertahankan daya beli, tapi tidak menciptakan teknologi dan lapangan kerja baru.

“Menyimpan emas dapat melindungi kekayaan individu. Membangun industri akan menciptakan kekayaan bagi bangsa. Keduanya memiliki fungsi berbeda dan tidak dapat saling menggantikan,” tegas Prof. Haryadi.

Di sinilah tantangan pemerintah. Bukan hanya menjaga stabilitas harga, tetapi menciptakan iklim yang membuat masyarakat yakin investasi pr

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x