x

CALON ARANG MENGGUGAT: KETIKA KAIN PUTIH MENJADI BAHASA PERLAWANAN DI PELATARAN UNJ

waktu baca 3 menit
Kamis, 29 Okt 2026 12:14 10 Wisnu

JAKARTA, thepostkota.online – Pukul 19.30 WIB, lampu di pelataran Tugu Universitas Negeri Jakarta, 28/10 Rawamangun, padam. Yang tersisa hanya selembar kain putih raksasa yang bergerak liar diterpa angin malam, diterpa sorot lampu biru dan merah. Dari balik kain itu, dua belas penari muncul berlutut, diam.

Itulah pembuka sendratari Calon Arang Menggugat_, karya terbaru mahasiswa Prodi Pendidikan Tari, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNJ, yang dipentaskan di kawasan Teater terbuka UNJ.

Karya ini bukan sekadar ujian koreografi. Ia adalah pembacaan ulang atas naskah klasik Bali.

Dalam lontar dan geguritan Bali, Calon Arang dikisahkan sebagai janda sakti dari Desa Girah di era Raja Airlangga yang menebar wabah karena anaknya, Ratna Manggali, dikucilkan. Namun dalam versi “Menggugat”, Calon Arang tidak lagi menjadi Ratu Leak yang jahat.

“Mahasiswa kami mencoba membalik narasi. Calon Arang dibaca sebagai perempuan berilmu yang dikorbankan oleh stigma patriarki dan kekuasaan. Gugatan itu bukan tentang ilmu hitam, tapi tentang seorang ibu yang marah karena anaknya dikucilkan sistem,” ujar Ida Bagus Ketut Sudiasa,S.Sn., M.Sn., dosen koreografi Prodi Pendidikan Tari FBS UNJ

Menurut Ida Bagus, karya ini sejalan dengan filosofi yang ia tanamkan, tradisi tidak boleh hanya dihafal, tapi harus dihidupkan kembali dengan sentuhan modern agar lestari. Seperti halnya Menapak Bumi yang memadukan gerak etnik dengan musik kekinian, “Calon Arang Menggugat” memadukan gerak dasar Bali – ngegol, nyapuh, ngumbang dengan gerak kontemporer jatuh-bangun dan penggunaan properti.

Dan properti itu menjadi kunci. Kain putih sepanjang hampir 10 meter di awal pertunjukan bukan sekadar kain. Ia berubah menjadi ombak gosip masyarakat Girah, menjadi kabut mistis, menjadi selubung stigma yang menutupi tubuh Calon Arang.

Apresiasi Pimpinan Universitas

Pertunjukan yang memadukan gamelan yang digarap melalui DAW dengan lighting teater modern ini mendapat perhatian khusus dari pimpinan universitas.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis UNJ, Andy Hadiyanto, yang hadir memberikan sambutan, mengapresiasi keberanian mahasiswa mengangkat tema tersebut.

“Kami di UNJ selalu mendorong inovasi yang berdampak. Karya seperti “Calon Arang” Menggugat ini adalah contoh nyata bagaimana mahasiswa tidak hanya menari, tapi berpikir kritis. Mereka membedah cerita rakyat dengan kepekaan estetis abad 21. Ini yang sejalan dengan arahan Kementerian bahwa kampus harus menjadi poros intelektual yang terbuka dan kritis,” ujar Andy Hadiyanto dalam sambutannya.

Andy yang baru saja meraih Penghargaan Internasional IMLA 2025, Menegaskan bahwa pelestarian budaya seperti ini adalah bagian dari diplomasi akademik UNJ menuju _World Class University.

Sementara itu, Rektor UNJ, Prof. Dr. Komarudin, M.Si., melalui Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Ifan Iskandar,M.Hum., menyampaikan bahwa Teater Terbuka FBS UNJ memang sengaja diposisikan sebagai laboratorium penciptaan.

“Jangan takut menggugat. Justru dari gugatan itulah lahir karya yang jujur,” pesan tersebut.

Di akhir pertunjukan, ketika kain putih itu akhirnya tersibak dan dua belas penari berdiri menatap penonton dengan rias pucat, tak ada lagi sosok monster. Yang ada adalah potret perempuan yang terluka – dan berani melawan./GusWedha_

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x