x

YANG PENTING DAN YANG RAMAI:Catatan tentang Arah Bangsa yang Teralih

waktu baca 5 menit
Kamis, 8 Okt 2026 04:49 57 Wisnu


JAKARTA,Thepostkota.Online-Ada pertanyaan sederhana yang belakangan ini
sering muncul di ruang-ruang diskusi, warung
kopi, hingga kolom komentar media sosial:
mengapa bangsa yang memiliki begitu banyak
pekerjaan rumah besar justru asyik
memperdebatkan selembar kertas?
Hampir dua tahun energi politik negeri ini
tersedot pada polemik ijazah. Berita yang
berulang, debat yang tak kunjung usai,
kerumunan yang terus dibentuk. Sementara itu,
dunia tidak pernah berhenti bergerak.
Kecerdasan buatan mengubah lanskap kerja. Rantai pasok global bergeser. Harga energi dan
pangan bergejolak. Dan kita—masih di sini,
memperdebatkan hal yang sama.
Tulisan ini bukan tentang siapa yang benar atau
salah dalam polemik itu. Bukan pula tentang
membela atau menyerang pihak tertentu.
Tulisan ini tentang kita—tentang bagaimana
sebuah bangsa bisa kehilangan arah bukan
karena kehilangan tujuan, tetapi karena terlalu
lama menatap ke belakang. Tentang bagaimana
kita bisa begitu sibuk memperdebatkan yang
ramai, hingga lupa mengurus yang penting.
Mengapa Bangsa Bisa Teralih?
Dalam ekosistem politik kita, isu identitas selalu
lebih mudah dijual daripada isu kebijakan. Isu
ijazah tidak membutuhkan data, tidak
memerlukan analisis mendalam, dan langsung memicu emosi. Ia cukup menghadirkan narasi
sederhana: kita versus mereka. Sementara itu,
isu hilirisasi nikel, transisi energi, atau reformasi
birokrasi menuntut pemahaman, kesabaran, dan
kemampuan berpikir jangka panjang. Tidak
heran jika yang terakhir ini jarang menjadi
trending topic.
Media sosial memperparah keadaan. Algoritma
tidak peduli pada masa depan bangsa. Ia peduli
pada klik, pada engagement, pada berapa lama
mata menatap layar. Konten yang kontroversial
dan emosional selalu menang atas konten yang
mendidik dan reflektif. Ini menciptakan siklus
umpan balik yang memperkuat isu remeh dan
menenggelamkan isu substansial. Kita terjebak
dalam ekonomi perhatian yang menguntungkan
kebisingan, bukan pencerahan.
Di sisi lain, literasi politik publik kita memang belum matang. Banyak yang terjebak pada
simbolisme, pada pencitraan, pada drama yang
disajikan setiap hari di layar kaca. Ini bukan
sepenuhnya kesalahan masyarakat. Pendidikan
politik kita belum cukup kuat untuk membekali
warga dengan kemampuan membedakan mana
yang penting dan mana yang hanya ramai.
Demokrasi bukan hanya soal memilih setiap
lima tahun. Demokrasi adalah soal memahami
apa yang sedang dipertaruhkan, setiap hari,
dalam setiap kebijakan yang dibuat.
Biaya yang Tidak Terlihat
Ketika perhatian bangsa teralih, ada biaya yang
tidak terlihat namun sangat nyata. Pertama,
biaya ekonomi. Ketidakpastian politik yang
berkepanjangan menekan sentimen investor,
melemahkan nilai tukar, dan memperlambat
pertumbuhan. Setiap hari yang dihabiskan untuk polemik adalah hari yang hilang untuk reformasi.
Investor tidak bertanya siapa yang menang
dalam polemik. Mereka bertanya: apakah aturan
mainnya jelas? Apakah arah kebijakannya
konsisten? Apakah negara ini serius
membangun?
Kedua, biaya sosial. Polarisasi masyarakat
semakin dalam. Kelelahan politik melanda.
Kepercayaan pada institusi menurun. Survei
demi survei menunjukkan kepuasan publik
terhadap kinerja pemerintah terus merosot,
bukan hanya karena masalah ekonomi, tetapi
juga karena rasa lelah melihat elite politik sibuk
bertengkar sementara rakyat menunggu solusi.
Generasi muda yang seharusnya menjadi motor
perubahan justru tumbuh menjadi apatis. Ketika
politik menjadi tontonan, warga menjadi
penonton. Dan penonton tidak membangun
bangsa. Ketiga, biaya strategis. Sementara kita sibuk
dengan polemik, negara-negara lain berlomba
menguasai teknologi, mengamankan pasokan
energi, dan memperkuat kedaulatan digital.
Vietnam berlari kencang menarik investasi chip.
India membangun ekosistem AI raksasa. Brasil
memimpin diplomasi energi hijau. Kita? Kita
masih berdebat tentang keaslian tanda tangan.
Dunia tidak menunggu kita selesai berdebat.
Dunia sedang bergerak. Dan setiap detik yang
kita habiskan untuk hal yang tidak penting
adalah detik yang hilang untuk menyiapkan
masa depan.
Kembali ke Agenda Besar
Lalu, apa yang harus dilakukan? Pertama, kita
perlu reorientasi prioritas. Bangsa ini
membutuhkan kesepakatan baru tentang apa yang benar-benar penting. Tujuan bernegara
sudah jelas: melindungi segenap bangsa,
memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia. Setiap energi
politik harus diukur dengan satu pertanyaan
sederhana: apakah ini membawa kita lebih dekat
ke tujuan itu? Jika tidak, mengapa kita
membuang waktu untuk itu?
Kedua, pemimpin dan elite politik harus berani
mengalihkan perhatian publik dari isu remeh ke
agenda besar. Mereka harus berbicara tentang
visi, bukan hanya tentang konflik. Mereka harus
menjelaskan mengapa hilirisasi penting,
mengapa transisi energi tidak bisa ditunda,
mengapa kedaulatan pangan adalah fondasi
kemerdekaan. Kepemimpinan sejati bukan
tentang memenangkan polemik, tetapi tentang
mengarahkan perhatian bangsa pada hal yang benar-benar menentukan masa depan.
Ketiga, media harus mengambil peran sebagai
pendidik publik, bukan sekadar penyebar
sensasi. Media yang baik bukan yang paling
ramai, tetapi yang paling mencerahkan. Media
harus berani memberi ruang pada isu-isu
substansial, meskipun tidak selalu
menghasilkan klik sebanyak berita konflik.
Masyarakat sipil juga harus mendorong dialog
yang substantif dan inklusif, bukan sekadar ikut
arus kebisingan.
Keempat, literasi publik harus dibangun secara
berkelanjutan. Pendidikan politik harus dimulai
dari sekolah dan terus berlanjut sepanjang
hayat. Publik perlu dibekali kemampuan untuk
membedakan antara yang ramai dan yang
penting. Bangsa yang maju adalah bangsa yang
bisa membedakan antara kebisingan dan suara hati nuraninya.
Refleksi dan Ajakan
Pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan
tujuan. Kita hanya kehilangan fokus. Kita terlalu
lama menatap ke belakang, sementara masa
depan menuntut kita untuk melangkah. Sejarah
tidak mencatat pemenang polemik. Sejarah
mencatat bangsa yang berhasil menyiapkan
masa depannya.
Bayangkan sebuah kapal besar di tengah
samudra. Awaknya sibuk memperdebatkan
warna layar, sementara badai menghantam dari
kejauhan. Di tengah badai yang menanti, bukan
warna layar yang menyelamatkan kita. Tetapi
arah, kekuatan, dan kesatuan awak kapal. Kita
perlu berhenti bertanya “siapa yang salah?” dan
mulai bertanya “apa yang penting?” Kita perlu berhenti menjadi penonton, dan mulai
membangun.
Mari kita berhenti menjadi penonton. Mari kita
mulai membangun. Karena masa depan tidak
datang kepada mereka yang menunggu, tetapi
kepada mereka yang menyiapkannya. Yang
penting bukanlah siapa yang paling ramai hari
ini. Yang penting adalah siapa yang siap
menghadapi esok. Dan esok tidak menunggu
siapa pun.
───
Penulis adalah seorang purnawiran Mayor
Jenderal TNI yang mengampu Pengajar
Kewaspdaan Naional periode 2019-2024 dan
Deputi Pemantapan Nilai Kebangsaan periode
2024-2026 yang pada saat ini menjalani
kegiatan sebagai Dosen manajemen, komisaris
di perusahaan swasta dan aktif sebagai pembina beberapa organisasi non pemerintah.
Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan
tidak mewakili institusi tempat penulis bekerja.
───
Referensi:
· Munich Security Conference. (2026). Munich
Security Report 2026.
· Kementerian PPN/Bappenas. (2025).
Rancangan Teknokratik RPJPN 2025–2045.
· Bank Indonesia. (2026). Laporan Perekonomian
Indonesia.
· World Economic Forum. (2026). Global Risks
Report 2026.
· Survei Poltracking Indonesia. (2026). Tren
Kepuasan Publik terhadap Kinerja Pemerintah.
· Survei SMRC. (2026). Evaluasi Publik terhadap
Isu-Isu Nasional.
· Laporan Kajian Lemhannas RI. (2025). Ketahanan Nasional dalam Dinamika

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x