x

Butuh Uluran Tangan, Keluarga Sukri Bertahan Di Rumah yang Rapuh Dan Bocor Di Panimbang

waktu baca 2 menit
Selasa, 21 Jul 2026 02:02 27 Wisnu

Pandeglang,ThePoskota.Online- Di balik geliat pembangunan yang terus berjalan, masih ada ruang-ruang sunyi yang menyimpan kisah tentang ketabahan. Di Kampung Soge Timur, RT 004/RW 010, Desa Panimbangjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, sebuah rumah sederhana menjadi saksi perjuangan keluarga Sukri menjalani hidup di tengah keterbatasan.

Hasil pantauan awak media bersama Tim Relawan Peduli Pandeglang pada Senin (20/7/2026) menunjukkan kondisi rumah yang telah rapuh dan tidak lagi layak dihuni. Atap yang bocor membuat air hujan menggenangi lantai hingga membasahi tempat tidur. Bagi keluarga Sukri, setiap musim hujan bukan sekadar pergantian cuaca, melainkan ujian yang harus dihadapi dengan kecemasan.

“Rumah Pak Sukri kondisinya sudah sangat rapuh. Saat hujan, air masuk ke dalam rumah dan membasahi tempat tidur. Kondisi ini membutuhkan perhatian serta penanganan segera,” ujar Rio, Relawan Peduli Pandeglang.

Menurut Rio, kondisi tersebut mencerminkan masih adanya masyarakat yang memerlukan akses terhadap program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Ia berharap pemerintah desa, pemerintah daerah, pendamping desa, TKSK, serta instansi terkait segera melakukan pendataan dan verifikasi secara objektif agar keluarga Sukri memperoleh kesempatan mendapatkan bantuan sesuai ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, Sukri mengaku belum memiliki kemampuan ekonomi untuk memperbaiki rumah yang ditempatinya bersama istri, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya. Sebagai pekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu, kebutuhan sehari-hari saja kerap sulit dipenuhi.

“Saya hanya bekerja apa saja yang ada. Untuk makan sehari-hari saja kadang masih kesulitan, apalagi memperbaiki rumah. Kalau hujan turun, kami hanya bisa berharap rumah ini tetap berdiri,” tuturnya.

Rumah sejatinya bukan sekadar bangunan yang melindungi tubuh dari panas dan hujan. Ia adalah ruang tempat harapan bertumbuh, tempat anak-anak bermimpi, dan keluarga menata masa depan. Ketika sebuah rumah kehilangan kelayakannya, yang terancam bukan hanya dinding dan atap, tetapi juga rasa aman yang menjadi hak setiap warga negara.

Kisah keluarga Sukri menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur, melainkan juga dari sejauh mana negara dan masyarakat mampu menghadirkan keadilan bagi mereka yang masih hidup dalam keterbatasan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Desa Panimbangjaya maupun instansi terkait mengenai status pendataan keluarga Sukri atau rencana penanganan terhadap kondisi rumah tersebut. Media tetap membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi bagi seluruh pihak sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Farhat M….reed..77..Tim

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x