x

Sejarah Masuknya Kopi di Indonesia

waktu baca 3 menit
Senin, 8 Jun 2026 03:30 57 Wisnu

Tangerang Selatan, thepostkota.online – Bicara kopi di Indonesia, sepertinya tidak bisa lepas dari sejarah panjang perjalanan kopi itu sendiri.

Masuknya kopi di Indonesia semua ini berkat peran serta Pemerintah Kolonial Belanda di masa lalu.

SEJARAH
Benih kopi arabika untuk pertama kalinya ditanam di pulau Jawa, tepatnya di daerah Kedawung, sebuah perkebunan berlokasi dekat dengan Batavia (kelak menjadi Jakarta) oleh Pemerintahan Kolonial Belanda pada tahun 1696, dibawa langsung oleh pimpinan kapal dagang Belanda, Adrian van Ommen dari Malabar, India.
Usaha ini mengalami kegagalan, karena bencana gempa bumi dan banjir, yang terjadi pada masa itu.
Pemerintah Kolonial Belanda saat itu melakukan usaha penanaman kedua dengan mendatangkan setek pohon kopi dari Malabar dan mengalami kesuksesan, dan kopi yang dihasilkan berkualitas sangat baik sehingga dijadikan bibit bagi semua perkebunan yang dikembangkan di Indonesia. Pemerintah Kolonial Belanda akhirnya meluaskan areal budi dayanya ke Sumatra, Sulawesi, Bali, Timor, dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

ERA TANAM PAKSA
Pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel sekitar tahun (1830 — 1870) pada masa penjajahan pemerintah Belanda di nusantara, mereka membuka sebuah perkebunan komersial pada koloninya di Hindia Belanda, khususnya di pulau Jawa, pulau Sumatra dan sebagian Indonesia Timur. Jenis kopi yang dibudidayakan adalah arabika yang didatangkan langsung dari Yaman. Pada awalnya pemerintah Belanda menanam kopi di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Kopi juga ditanam di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Timor dan Flores.

PENYAKIT KARAT DAUN
Pada tahun 1878, di hampir semua area perkebunan kopi Indonesia, terutama yang terletak di dataran rendah, rusak terkena hama penyakit karat daun (Hemileia vastatrix – HV), yang pada masa itu kopinya berjenis arabika. Penyakit ini berupa jamur yang memakan daun layaknya karat yang menggerus besi, sehingga para petani kemudian menyebutnya sebagai penyakit karat daun.
Sekitar tahun 1880-an tersebut, Jawa kehilangan potensi untuk mengirimkan kopi ke luar negeri hingga 120.000 ton dan mengakibatkan pasar kopi dunia menjadi panik.

Pemerintah Kolonial Belanda menanggulanginya dengan mendatangkan spesies kopi Liberika (Coffea Liberica) yang diharapkan lebih tahan terhadap hama ini. Namun upaya ini juga mengalami kegagalan, karena mereka juga terkena hama yang sama.
Baru pada tahun 1907, Pemerintahan Kolonial Belanda mendatangkan spesies lainnya, yaitu kopi robusta (Coffea canephora). Dan usaha mereka kali ini berhasil dan hampir semua perkebunan yang terletak di dataran rendah tidak terkena lagi hama penyakit karat daun.

PASCA KEMERDEKAAN
Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, kebun-kebun kopi diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia karena tidak terawat lagi dan ditinggalkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Mulailah muncul daerah ikonik: Kopi Jawa, Kopi Gayo Aceh, Kopi Toraja, Kopi Sulawesi, Kopi Kintamani Bali, Kopi Wamena Papua dan lain-lain.
Setiap daerah mempunyai cita rasa yang khas karena tanah dan cara proses yang berbeda.

Indonesia merupakan penghasil atau produsen Kopi Robusta no. 1 didunia dan untuk Kopi Arabica no. 4

Kebiasaan masyarakat minum kopi di Indonesia masih belumlah sebesar bangsa Barat, dan masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, serupa Singapura dan Filipina.
Meskipun saat ini banyak bermunculan cafe dan warung kopi. (Wirawan)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x